BERBEDA DENGAN YANG TERJADI DI INDONESIA, TERNYATA PROFESI GURU DI MALAYSIA SANGAT DIHORMATI

loading...
loading...
Assalamu'alaikum wr.wb. selamat siang dan salam sejahtera untuk guru-guru seluruh indonesia...
mari simak informasi terbaru berikut ini tentang negara tetangga kita ternyata sangat menjunjung tinggi kehormatan  dan sangat menghargai guru-guru mereka....

Mahasiswa Doctoral Program Educational Psychology UPSI, Dosen Prodi Psikologi Unimal, melaporkan dari Malaysia
MENURUT Anda, profesi apa yang paling dihargai, dihormati, dan disegani di Indonesia?
Mungkin sebagian dari kita akan menjawab profesi dokter, pilot, dan lainnya. Jawaban ini mungkin tak akan kita jumpai di Tanah Malaka, Malaysia. Kesimpulan ini berawal dari penghargaan dan penghormatan yang saya dapatkan ketika mereka tahu bahwa saya pelajar di University Pendidikan Sultan Idris (UPSI).


Berbagai urusan jadi mudah dan cepat tanpa banyak pertanyaan dan selidikan ketika para petugas membaca student matrix card saya. Petugas pun ramah dan responsif melayani saya, baik di tempat fasilitas umum seperti rumah sakit/klinik kesehatan, train station, maupun ketika berurusan dengan imigrasi di airport.
Kenalan di perjalanan terkhusus orang asli Malay pun menunjukkan sikap yang sama. Pernah suatu ketika seorang kenalan di train station bertanya, “Studi di UPSI Cekgu, ke?”
“Oh ya, sa-ya...Cekgu di University di Aceh,” jawab saya agak ragu.
“O, lecture,” tukasnya.

Penghargaan yang sama juga saya dapatkan baru-baru ini saat berkunjung ke Perpustakaan International Islamic University Malaysia atau UIA. Seperti biasa di mana pun, karena saya bukan student di situ, maka saya langsung melapor pada petugas yang dekat dengan pintu masuk. Petugas minta saya menunjukkan student card sambil mempersilakan untuk mengisi buku tamu.
Setelah melihat student card saya, mimik muka dan cara berbicara petugas langsung berubah menjadi lebih ramah dan hangat. “Puan dari UPSI ke? Sila, sila,” petugas tersebut mempersilakan saya masuk dengan ramahnya. Tak lupa dia berpesan, jika perlu bantuan apa-apa bisa hubungi sambil menunjuk seorang petugas di meja seberang.
Dari beberapa peristiwa yang saya alami itu, awalnya saya merasa terlalu GR (gede rasa -red) untuk berkesimpulan tentang UPSI. Saya tidak terlalu berani membuat kesimpulan yang muluk-muluk karena saya tahu masih banyak universitas besar di Malaysia seperti UM, UKM, UTM, dan seterusnya. Malah beberapa teman hanya memandang sebelah mata terhadap universitas pilihan saya ini.
Rasa ingin tahu ini terus saya pelihara dengan bercerita ke teman-teman Malay dan bertanya pengalaman teman-teman UPSI lainnya. Ternyata usut punya usut saya mendapat informasi bahwa bagi orang Malaysia profesi guru begitu besar harganya. Tanpa guru, Malaysia tak bisa menjadi negara semaju ini. Terlebih UPSI. UPSI adalah universitas keguruan negeri yang tertua di Malaysia. Banyak guru senior, hebat, dan berkelas dicetak oleh UPSI. Maka wajarlah saat nama UPSI disebut, akan kedengaran “berbeda” di telinga orang-orang Malaysia. 

Berbeda dengan guru di negeri kita. Entah apa sebabnya, profesi guru menjadi tak terlalu berharga di mata masyarakat kita. Jika seorang mahasiswa menyebut dirinya mahasiswa FKIP atau kuliah di... katakanlah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), maka akan kedengaran biasa saja di telinga masyarakat kita.
Apa mungkin karena pada era ‘60-an Malaysia sempat mengimpor ribuan guru dari Indonesia, lalu disebarkan ke seluruh pelosok Malaysia untuk memberi sumbangsih terhadap pembangunan pendidikan Malaysia, sehingga mereka merasa guru begitu berharganya?

Kita memang harus banyak introspeksi dan bercermin pada negeri seberang. Di Malaysia, kedudukan yang membanggakan sebagai seorang Cekgu sudah tertanam sejak awal seseorang menjadi mahasiswa. Sikap baik yang salah satunya ditunjukkan melalui cara berpakaian dan berkomunikasi terus mereka biasakan. Student UPSI belajar menginternalisasikan citra sebagai Cekgu, bahkan sejak awal menjadi student di UPSI. Jika Anda berkunjung ke UIA Anda akan merasakan suasana Timur Tengah di mana banyak pelajarnya yang berjubah, gamis, berkerudung lebar, serta bercadar dan berjenggot tebal. Maka jika Anda berkunjung ke UPSI, Anda akan merasakan nuansa khas lainnya. Sehari-hari Anda akan menyaksikan pelajar-pelajar yang berpakaian khas Malay.

Di UPSI, semua student degree dan beberapa student program magister wajib berpakaian demikian, sekalipun tidak berasal dari suku Malay, semisal keturunan Chinese atau Indian, juga mahasiswa internasional yang kebanyakan dari Afrika, Indonesia, Cina, dan Eropa semua berpenampilan demikian. Tak ada sedikit pun keminderan atau kerisihan dengan cara berpakaian demikian. Juga tidak menghilangkan kecantikan, keluwesan, dan modernisme yang dibangga-banggakan perempuan zaman sekarang, karena ini menjadi salah satu cara para pelajar belajar menginternalisasi citra sebagai Cekgu dalam dirinya. Berbeda dengan di Indonesia, sebagian remaja putri risih berpakaian longgar dan syar’i, serta akan dianggap kampungan dan tidak fasionable. 
Sekali lagi mari bercermin, janganlah Indonesia sampai harus mengimpor guru dari negara lain untuk bisa menghargai dan menghormati profesi sebagai guru.


Demikian informasi terbaru yang dapat saya berikan,,,,
semoga bermanfaat untuk kita semua, silahkan baca berita terbaru guru DISINI
loading...

1 Response to "BERBEDA DENGAN YANG TERJADI DI INDONESIA, TERNYATA PROFESI GURU DI MALAYSIA SANGAT DIHORMATI"